Cerita Pelatihan Menulis

    Tanggal 28 Desember 2020 yang lalu saya berkesempatan, lebih tepatnya memaksa diri mengikuti pelatihan menulis online. Biasanya saya menghindari pelatihan-pelatihan online yang menggunakan zoom dan mengharuskan peserta untuk online berjam-jam. Saya merasa tidak memiliki kesempatan untuk itu, karena kalau sudah di rumah, maka waktu tersita untuk keluarga terutama si bontot yang selalu rewel ketika emaknya menghadap layar laptop. Ia merasa cemburu dengan gadget emaknya, ia ingin emaknya bermain bersamanya. Ketika saya memutuskan untuk mengikuti pelatihan menulis kali ini, saya memberitahukan kepada suami bahwa saya akan mengikuti pelatihan yang sangat saya butuhkan dan durasinya bukan satu dua jam, serta mendiskusikan bagaimana menangani si bontot yang saban hari nempel terus ke emaknya. Alhamdulillah akhirnya saya dapat mengikuti pelatihan menulis tersebut dari awal hingga akhir, meskipun diselingi drama-drama si bontot.
    Pelatihan menulis tersebut diadakan oleh aksarapedia.id. Pematerinya adalah Bunda Meity Hadzriana Idris dan Mas Raditya Riefananda serta dipandu oleh Mbak Yulita. Pelatihan menulis ini gratis dan baru kali ini saya mengikuti pelatihan online yang durasinya lama namun tidak terasa lama karena berbeda dengan pelatihan-pelatihan online sebelumnya. Materi-materi yang disampaikan membuat saya tercerahkan dan mengucap "daebak" berkali-kali. 

    Bunda Meity menyampaikan bahwa sebagai guru sebaiknya memiliki kemampuan menulis. Guru yang memiliki keterampilan menulis akan mendapat dua predikat sekaligus, sebagai guru dan sebagai penulis. Guru Penulis memiliki keterampilan mengorganisir pengetahuan, me-manage rencana pembelajaran dan menganalisa secara sistematis. Menulis adalah membuat sejarah sendiri. Untuk bisa terus menulis, maka harus meluangkan waktu untuk menulis artinya menulis adalah hal rutin, waktunya disediakan, bukan menggunakan waktu sisa. Nah.....poin ini yang belum bisa saya jalankan, karena saya masih menulis mengikuti mood hehehe.

Dari apa yang disampaikan oleh mas Raditya Riefananda, saya merangkumnya sebagai berikut :
Tulislah apa saja yang ada di dalam kepala kita di sosial media atau media apa pun sehingga dapat dibaca oleh orang lain di manapun berada, dan bermanfaat bagi pembaca. Menulis itu untuk keabadian. Seberapa pintar, cerdas atau berprestasinya seseorang jika tidak memiliki tulisan atau karya, maka ia akan tenggelam alias mudah terlupakan. Contohnya, RA Kartini jika tidak menulis surat ke para sahabatnya, mungkin kita tidak akan mengenal RA Kartini dan pemikiran-pemikirannya saat itu. Pramoedya Ananta Toer legenda sastra kita, mengabdikan hidupnya untuk menulis. Selama dalam penjara yang dikerjakan oleh beliau adalah menulis dan manulis sehingga karya beliau sampai sekarang dapat kita nikmati, dan dapat mengambil hikmah dari karya-karyanya.

Tips-tips untuk menjadi seorang penulis :

  1. Hadirlah sebagai penulis dengan sudut pandang yang berbeda, artinya memiliki ide dan diksi yang tidak pasaran.
  2. Seorang penulis harus memiliki amunisi. Amunisi seorang penulis adalah membaca. Menulis itu ibarat menuangkan isi teko dan membaca adalah ibarat mengisi teko, jadi seorang penulis harus gemar membaca, termasuk membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Banyak melakukan perjalanan untuk mengetahui tempat baru, budaya baru, suasana baru yang nantinya dapat melengkapi tulisan. Banyak berkawan dengan orang bijak, akan membuat kita dapat melihat persoalan dengan adil.
  3. Mengawali tulisan itu mudah. Aktivitas menulis menurut Mas Radit adalah aktivitas menangkap imajinasi kata dan menuangkannya ke media. Kata kuncinya adalah imajinasi. Menulis tidak perlu berpikir dalam artian tidak perlu memikirkan apakah penulisan kata sudah benar, apakah tanda bacanya sudah benar. Tulis saja apa adanya sampai tulisan tersebut selesai. Selesaikan dulu tulisannya. Aktivitas ini disebut menulis. Kemudian setelah tulisan selesai, baca kembali, periksa penggunaan kata-kata, tanda baca, dan lain-lainnya, proses ini disebut dengan editing. Sekali lagi, jangan benahi tulisan sebelum tulisan itu selesai. Halnya dengan memulai tulisan, tulis saja apa yang terlintas di kepala, perkara nyambung tidaknya nanti dicek saat editing.

Menulis itu bukan bakat, menulis adalah keterampilan, jadi harus dilatih terus menerus. Sebanyak apapun ide-ide di dalam kepala kita, jika tidak memiliki keterampilan menulis, maka tidak akan bisa dituangkan dalam tulisan. Mengenai gaya bahasa, itu akan berkembang dengan sendirinya seiring dengan seringnya menulis. Rumus menulis adalah menulis, menulis, menulis.

Untuk mengakhiri sebuah tulisan, jika dirasa semua sudah dituliskan dan ingin mengakhiri tulisan maka akhiri saja dengan kata TAMAT atau SELESAI.
Jangan khawatir tulisan kita dianggap bagus atau jelek, karena kita tidak dapat memenuhi selera semua oang. Selalu ada yang menyukai dan tidak menyukai tulisan kita. Jangan dipusingkan. Terus saja menulis. Tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Namun yang harus diingat, tulisan janganlah sampai mencela dan menghina orang lain atau mencemarkan nama baik orang lain.

Bagaimana caranya mendapatkan ide menulis ? Ketika ada ide, langsung tuliskan dimana saja. Ide itu bersayap, jika tidak segera "ditangkap" ia akan terbang melayang dan hilang.

Jika sudah menulis, sudah mempublikasikan tulisan misalnya di facebook, fokuslah pada hal-hal yang baik dan abaikan yang nyinyir-nyinyir.

Bagaimana jika saat menulis kemudian mandek ditengah-tengah (writer's block) ? artinya "teko" penulis belum penuh, maka penulis butuh mengisi "tekonya" kembali. Menurut Mas Radit writer's block hanya alasan akibat kurang penuhnya "teko "penulis.

Bagaimana menciptakan tokoh dalam suatu tulisan ? Ciptakan sesuai dengan keinginan penulis. Penulis adalah "tuhan" bagi karya tulisnya.

Ketika menulis jangan memaksa kedua belah otak bekerja bersama-sama. Aktivitas menulis menggunakan otak kanan dan aktivitas editing menggunakan otak kiri. Itu sebabnya jika menulis, harus diselesaikan dulu kemudain diedit.

Macam-mcam tulisan terdiri dari fiksi, non fiksi dan faksi. Faksi (fakta fiksi) adalah tulisan berdasarkan kisah nyata namun ditambah-tambahkan sehingga lebih menarik. Contoh karya faksi adalah Laskar Pelangi dan Titanic.

Tahapan-tahapan menulis hingga tercetak adalah :

  • membuat sinopsis. Sinopsis adalah ringkasan dari naskah buku tanpa ada bagian yang dikurangi. Sinopsis bukan bagian yang berada di belakang buku. Berbeda dengan blur. Blur berada di bagian belakang buku, ringkasan dari naskah buku, namun ada bagian yang dihilangkan dengan tujuan agar calon pembaca penasaran terhadap isi buku
  • membuat matrik outline atau kerangka menulis, Jika muncul ide baru di tengah-tengah penyusunan  kerangka tulisan, jangan masukkan ide baru tersebut ke dalam kerangka. Tuliskan ide baru tersebut pada tempat yang berbeda untuk dikembangkan dilain waktu.
  • menulis
  • pracetak, pada proses ini dilakukan desain layout, desain cover, editing dan lain-lain
  • cetak, tulisan dicetak. Percetakan dibedakan menjadi dua macam, yaitu percetakan konvensional dan percetakan digital. Sementara penerbit dibedakan menjadi penerbit mayor yang berskala nasional dan penerbit indie yang skalanya lebih kecil. Tidak semua buku yang tercetak diterbitkan. Sebuah buku dikatakan diterbitkan ketika buku tersebut terdaftar ISBNnya pada perpustakaan negara. 
    Demikian yang dapat saya rangkum, saya benar-benar mendapatkan ilmu baru, meski durasi pelatihannya lama dan kuping sampai berdengung karena terlalu lama menggunakan headset. Worthy banget....kapan lagi dapat ilmu sepadat ini dan cuma modal kuota alias gretongan.

    Tugas dari pelatihan ini adalah menulis surat rindu untuk para peserta didik yang karena Covid-19 terpisah sedemikian rupa dan sedemikian lama dengan kami para pendidik. Tugas tersebut harus dikirimkan paling lambat jam 13.00 WIB keesokan harinya. Semangat masih 45, rencananya tugas akan saya kerjakan ba'da sholat Isya, namun si bontot protes karena emaknya terlalu lama mantengin laptop. Saya pun mengalah, karena bukan si bontot saja yang protes, mata dan kepala juga mulai pening. Akhirnya saya putuskan untuk bermain sebentar dengan si bontot, diakhiri dengan drama mengeloni si bontot yang gelisah tak bisa tidur. Disela-sela drama si bontot, sekitar jam stengah dua belas malam, saya cek kembali kondisi adik ipar saya yang akan melahirkan melalui pesan whatsapp, jawabannya saya terima sekitar jam setengah satu malam, mengabarkan keponakan saya belum lahir. Setelah memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dilancarkan proses melahirkannya ipar saya, saya pun berusaha untuk tidur.

    Jam 3 pagi, saya terbangun oleh bisingnya alarm yang memang sengaja diatur jam segitu. Saya berniat mengecek kembali kondisi ipar saya, namun yang saya dapatkan adalah pesan duka dari adik saya, mengabarkan bahwa keponakan saya, laki-laki, lahir meninggal dunia. Air mata saya mengalir, saya berusaha tegar, memberi semangat pada adik saya, bahwa harus kuat dan sabar, karena sesungguhnya tidak ada apapun yang kita miliki. Semua adalah milik AllohSWT. Mengundang ketegaran dan menghalau duka, segera saya mengambil air wudhu, mengadu kepada Sang Pemegang Kehidupan, seperti saat orang yang sangat saya cintai meninggalkan saya 14 tahun silam.
    29 Desember 2020, hari yang menguras emosi dan tenaga. Kami berduka juga bersyukur. Berduka kehilangan lelaki yang belum genap 24 jam mengenal dunia, disisi lain bersyukur si sulung menginjak usia 14 tahun. Yang satu dimakamkan, satunya lagi diijinkan melanjutkan kehidupan. Hal menulis surat kangen kepada anak didik yang ditugaskan saat pelatihan menulis online lenyap, menguap. Seharian itu kami membersamai adik dan adik ipar saya. 
Dalam perjalanan pulang, saya bertekad akan terus menulis dan akan berusaha mengikuti kelas-kelas pelatihan menulis berikutnya.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

OPERASI SISTEM BILANGAN

SISTEM BILANGAN

BUKU BSE SMK TEKNIK AUDIO VIDEO