Cerita Pelatihan Menulis
Bunda Meity menyampaikan bahwa sebagai guru sebaiknya memiliki kemampuan menulis. Guru yang memiliki keterampilan menulis akan mendapat dua predikat sekaligus, sebagai guru dan sebagai penulis. Guru Penulis memiliki keterampilan mengorganisir pengetahuan, me-manage rencana pembelajaran dan menganalisa secara sistematis. Menulis adalah membuat sejarah sendiri. Untuk bisa terus menulis, maka harus meluangkan waktu untuk menulis artinya menulis adalah hal rutin, waktunya disediakan, bukan menggunakan waktu sisa. Nah.....poin ini yang belum bisa saya jalankan, karena saya masih menulis mengikuti mood hehehe.
Tips-tips untuk menjadi seorang penulis :
- Hadirlah sebagai penulis dengan sudut pandang yang berbeda, artinya memiliki ide dan diksi yang tidak pasaran.
- Seorang penulis harus memiliki amunisi. Amunisi seorang penulis adalah membaca. Menulis itu ibarat menuangkan isi teko dan membaca adalah ibarat mengisi teko, jadi seorang penulis harus gemar membaca, termasuk membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Banyak melakukan perjalanan untuk mengetahui tempat baru, budaya baru, suasana baru yang nantinya dapat melengkapi tulisan. Banyak berkawan dengan orang bijak, akan membuat kita dapat melihat persoalan dengan adil.
- Mengawali tulisan itu mudah. Aktivitas menulis menurut Mas Radit adalah aktivitas menangkap imajinasi kata dan menuangkannya ke media. Kata kuncinya adalah imajinasi. Menulis tidak perlu berpikir dalam artian tidak perlu memikirkan apakah penulisan kata sudah benar, apakah tanda bacanya sudah benar. Tulis saja apa adanya sampai tulisan tersebut selesai. Selesaikan dulu tulisannya. Aktivitas ini disebut menulis. Kemudian setelah tulisan selesai, baca kembali, periksa penggunaan kata-kata, tanda baca, dan lain-lainnya, proses ini disebut dengan editing. Sekali lagi, jangan benahi tulisan sebelum tulisan itu selesai. Halnya dengan memulai tulisan, tulis saja apa yang terlintas di kepala, perkara nyambung tidaknya nanti dicek saat editing.
Menulis itu bukan bakat, menulis adalah keterampilan, jadi harus dilatih terus menerus. Sebanyak apapun ide-ide di dalam kepala kita, jika tidak memiliki keterampilan menulis, maka tidak akan bisa dituangkan dalam tulisan. Mengenai gaya bahasa, itu akan berkembang dengan sendirinya seiring dengan seringnya menulis. Rumus menulis adalah menulis, menulis, menulis.
Bagaimana caranya mendapatkan ide menulis ? Ketika ada ide, langsung tuliskan dimana saja. Ide itu bersayap, jika tidak segera "ditangkap" ia akan terbang melayang dan hilang.
Bagaimana jika saat menulis kemudian mandek ditengah-tengah (writer's block) ? artinya "teko" penulis belum penuh, maka penulis butuh mengisi "tekonya" kembali. Menurut Mas Radit writer's block hanya alasan akibat kurang penuhnya "teko "penulis.
Ketika menulis jangan memaksa kedua belah otak bekerja bersama-sama. Aktivitas menulis menggunakan otak kanan dan aktivitas editing menggunakan otak kiri. Itu sebabnya jika menulis, harus diselesaikan dulu kemudain diedit.
Tahapan-tahapan menulis hingga tercetak adalah :
- membuat sinopsis. Sinopsis adalah ringkasan dari naskah buku tanpa ada bagian yang dikurangi. Sinopsis bukan bagian yang berada di belakang buku. Berbeda dengan blur. Blur berada di bagian belakang buku, ringkasan dari naskah buku, namun ada bagian yang dihilangkan dengan tujuan agar calon pembaca penasaran terhadap isi buku
- membuat matrik outline atau kerangka menulis, Jika muncul ide baru di tengah-tengah penyusunan kerangka tulisan, jangan masukkan ide baru tersebut ke dalam kerangka. Tuliskan ide baru tersebut pada tempat yang berbeda untuk dikembangkan dilain waktu.
- menulis
- pracetak, pada proses ini dilakukan desain layout, desain cover, editing dan lain-lain
- cetak, tulisan dicetak. Percetakan dibedakan menjadi dua macam, yaitu percetakan konvensional dan percetakan digital. Sementara penerbit dibedakan menjadi penerbit mayor yang berskala nasional dan penerbit indie yang skalanya lebih kecil. Tidak semua buku yang tercetak diterbitkan. Sebuah buku dikatakan diterbitkan ketika buku tersebut terdaftar ISBNnya pada perpustakaan negara.
Tugas dari pelatihan ini adalah menulis surat rindu untuk para peserta didik yang karena Covid-19 terpisah sedemikian rupa dan sedemikian lama dengan kami para pendidik. Tugas tersebut harus dikirimkan paling lambat jam 13.00 WIB keesokan harinya. Semangat masih 45, rencananya tugas akan saya kerjakan ba'da sholat Isya, namun si bontot protes karena emaknya terlalu lama mantengin laptop. Saya pun mengalah, karena bukan si bontot saja yang protes, mata dan kepala juga mulai pening. Akhirnya saya putuskan untuk bermain sebentar dengan si bontot, diakhiri dengan drama mengeloni si bontot yang gelisah tak bisa tidur. Disela-sela drama si bontot, sekitar jam stengah dua belas malam, saya cek kembali kondisi adik ipar saya yang akan melahirkan melalui pesan whatsapp, jawabannya saya terima sekitar jam setengah satu malam, mengabarkan keponakan saya belum lahir. Setelah memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dilancarkan proses melahirkannya ipar saya, saya pun berusaha untuk tidur.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)
Jadi ...semakiin tua semakin berilmu....saluuuttt....
BalasHapus