Mengundurkan Diri
“Katou san, setelah briefing jumpai saya” ujar
Yamada pada Katou yang baru saja sampai di ruang kantor. “Haik” Katou mengiyakan
dengan membungkukkan badan pada atasannya itu. “Jangan terlalu keras pada
bawahanmu” ujar Yamada sambil melengos pergi ke ruang produksi untuk
melaksanakan briefing pagi. Katou pun bergegas ke
ruang produksi untuk briefing pagi dengan membawa rasa penasarannya.
“Ohayoo….” sapa Katou pada sekumpulan supervisor dan engineering support yang menunggunya untuk kegiatan briefing pagi.
Sambil memberikan briefing diam-diam Katou memperhatikan satu per satu para bawahannya, dan tidak
didapatinya sesuatu yang aneh.
Selesai briefing, Katou bergegas menemui
Yamada. “Yamada san” salam Katou pada lelaki 60 tahun itu di meja kerjanya.
Yamada berdiri, kemudian mengajak Katou menuju smooking area yang terletak di sisi luar area kantor.
“Masalah mana yang terulang, Katou san ?”
tanya Yamada pada pemuda di sampingnya. Katou menatap Yamada tak mengerti.
“Saya tidak mengerti Yamada san” jawab Katou,
bingung sekaligus penasaran
“Skandal percintaan kah ? Atau Anda masih
saja keras terhadap bawahan-bawahan Anda ?” tanya Yamada lagi. Yang ditanya hanya diam,
menerka-nerka, apakah yang
terlewat olehnya ?
“Kan sudah berkali-kali disampaikan kepada
Anda, jangan membawa urusan asmara ke tempat kerja. Dan jangan terlalu
keras terhadap bawahan-bawahan Anda. Kita bukan sedang berada di Jepang Katou
san. Budaya di sini berbeda dengan budaya Jepang. Jangan Anda mengharapkan
mereka mengikuti cara kerja orang Jepang. Bersabarlah, kendalikan diri Anda. Jangan
sampai kita kehilangan orang-orang yang handal
hanya karena tidak tahan dengan Anda” ceramah Yamada
“Maaf Yamada san, saya benar-benar tidak
mengerti” Katou membungkukkan badannya
“Hana san akan mengundurkan diri” ujar Yamada
dengan nada kecewa
Katou terdiam, ia lemparkan
pandangannya
pada langit yang sedang cerah. Tidak
percaya ia pada kalimat yang keluar dari mulut laki-laki tua itu. Apa yang
terjadi pada Hana ? Apa yang ia lewatkan selama ini ? Apa yang salah dengan
sikapnya selama ini ?
“Cobalah bicara dengan Hana san” Yamada
meninggalkannya diliputi duga dan prasangka.
“Aarrgghhhh…..” Katou mendongakkan kepalanya,
kembali bertanya-bertanya pada langit mengapa Hana mengundurkan diri. Ia berusaha
mengingat-ingat kejadian akhir-akhir ini yang mungkin menyakiti perasaan Hana.
Namun sepertinya tidak ada. Ia bingung sendiri. Ia menarik nafas panjang,
berusaha menenangkan diri. Entahlah, hatinya terasa nyeri. Ia mencoba mempertanyakan
penyebabnya, bisa jadi apa yang disampaikan Yamada tidak demikian,
terlebih alasannya perlakuan keras terhadap bawahan ? yang benar saja. 4 tahun terakhir
tidak ada keluhan akan sikapnya. Skandal percintaan ? Percintaan dengan siapa ? Sejak
peristiwa skandal percintaannya dengan seorang karyawati di tentang oleh
perusahaan, ia menjadi
sangat hati-hati dalam bersikap. Ah, apa jangan-jangan Hana diam-diam jatuh cinta padanya ? Hah…..sepertinya
tidak mungkin. Membicarakan tentang dirinya pun Hana tidak pernah. Jika mulai memasuki
area pribadinya Hana akan memberikan sinyal tidak suka dan menjauh. Katou kembali
ke meja kerjanya dengan penuh
tanda tanya. Ia bertekad bahwa hari ini ia harus berbicara empat mata dengan
Hana.
“Permisi Katou san….” Salam Hana.
“Ah iya, silakan Hana san” gegasnya,
mempersilakan Hana duduk mengutarakan laporannya. Hana memaparkan
laporan-laporannya, Katou memandangi gadis di
depannya, berusaha mencari-cari apa yang berbeda. Mata besar, hidung mancung,
bibir penuh, kulit putih, dengan muka
yang tidak ber-make up namun cantik,
benar-benar cantik. Sayangnya,
ia tidak boleh mengumbar rasanya. Kepala yang
dibalut hijab membuatnya menerka-nerka bagaimana model rambut di dalamnya,
luruskah, bergelombang kah. Pernah ia tanyakan hal itu pada Hana dan jawaban
tegas Hana “It is not your business” membuatnya diam seribu bahasa. Sementara
itu Hana menyadari Katou tidak memperhatikan penjelasannya. Hana hapal betul
kelakuan atasannya yang 4 tahun lebih tua darinya
itu, pasti ada masalah yang mengganggunya. Hana menghentikan aktifitas
melapornya.
“Anda tidak memperhatikan Katou san” tuduhnya sambil menatap langsung ke mata
Katou
“Hah ?” Katou terkesiap
“Bagaimana dengan laporan saya tadi ?” tanya Hana mengecek
“Mm….lakukan sesuai rencana” jawab Katou asal
“Are you OK ?” Hana memastikan
“No, I’m not
Ok” Katou menatap Hana
“A…..rupanya sudah sampai
kepada Anda bahwa saya akan
resign” ujar Hana datar
“Ya, tadi pagi Yamada san memberitahu saya
akan hal itu” Katou merasa hatinya perih
“Soo
desu ne… ” gumam Hana
“Mengapa mau resign Hana san ?” kali ini Katou menanyakan alasannya
“Personal
reason Katou san. Bukankah Anda tidak akan mendengarkan hal-hal yang
bersifat pribadi ?”
“Apakah karena saya ? Saya minta maaf kalau saya penyebabnya. Dan tolong jangan
resign sekarang, setidaknya berikan
saya kesempatan memperbaikinya”
“Bukan karena Anda Katou san. Tapi karena
saya”
“Then tell me, please. Abaikan janji saya
tempo hari Hana san. Please”
“Baiklah”
Hana berhenti sejenak, menimbang-nimbang lalu memperbaiki posisi duduknya.
“ Saya harus kembali ke tanah kelahiran saya.
Tidak bisa ditunda lagi, saya akan menikah” ujar Hana sambil tersenyum dan
menatap Katou menikmati reaksi terkejut pemuda tampan di depannya.
“Anda bilang Anda tidak punya pacar,
bagaimana bisa menikah ?” protes Katou
“Ya, saya memang
tidak
punya pacar Katou san, tetapi saya
memiliki calon suami” jawab Hana menekankan pada kata calon suami
“Bagaimana
bisa menikah tanpa pacaran ?” tanya Katou heran
“Tentu
saja bisa. That’s not impossible. Pacaran bisa dilakukan setelah menikah. My
time is precious, not to be wasted” jelas Hana singkat
“Tapi Anda akan kehilangan semua yang sudah
Anda usahakan di sini Hana san.
Dan bagaimana dengan saya ?” Dasar bodoh kutuk Katou pada dirinya
sendiri, mengapa pula ia mengeluarkan kalimat seperti itu. Bisa-bisa Hana menganggap ia telah
jatuh cinta. Hana tersenyum, baginya sangat jelas pemuda di depannya
ini berusaha menyembunyikan perasaannya, namun Hana berpura-pura tidak tau.
“Itu bukan milik saya Katou san. Anda lupa,
itu milik bangsa Anda. Halnya dengan Anda, kan tinggal rekrut pengganti saya.
Akan saya training ia sampai masa kontrak saya habis” jelas Hana tersenyum,
dalam hati sebenarnya ia pun risau, namun ia tidak boleh menunda lagi.
Katou meradang dalam hati ”dia bilang kami ?
dia belum menikah saja sudah bilang kami ? Dan itu….gampang sekali dia mengucap
tinggal rekrut penggantinya ? Dia pikir 3 bulan bisa membuat orang lain bisa
sepertinya ? IIssshhhh”
“Katou san ?”
“No..No..No ! Bagaimana bisa Anda
meninggalkan saya demi laki-laki lain. Meninggalkan apa yang sudah kita bangun
bersama selama 5 tahun. Gampang sekali Anda bilang tinggal rekrut pengganti
Anda. Anda pikir dalam 3 bulan bisa melatih orang lain sehingga dapat memiliki
kemampuan seperti Anda ? ” protes Katou
“A….., Anda sudah jatuh cinta pada saya rupanya
?” ujar Hana datar
“Hah ?! Anda salah mengerti, saya tidak jatuh
cinta pada Anda Hana san. Sebagai lelaki saya mengakui Anda wanita yang cantik
dan pekerja keras. Para lelaki akan dengan sukarela berjuang untuk menjadikan
Anda seorang istri” sambar Katou cepat, wajahnya memerah, malu
“Souka ! Hahaha….. Anda tidak memahami yang
saya maksudkan” Hana tertawa demi mendengar penjabaran Katou akan dirinya. Dan
sekali lagi Katou mengutuki dirinya yang telah gagal mengekang perasaannya
“Anda sudah jatuh cinta pada saya, pada
kinerja saya, pada keberadaan saya untuk perusahaan. Itu yang saya maksudkan
Katou san. Dan Anda tidak boleh bergantung pada satu orang saja seperti itu,
demikian pula dengan perusahaan. Sekarang atau nanti Anda akan mengalami hal
semacam ini pula ” beber Hana, Katou terpekur, mencerna kalimat-kalimat Hana
“Tidak Hana san, tentu saja tidak, jika Anda
tetap di samping saya”
“Anda tidak mau tau bagaimana halnya dengan
saya ?”
“Apa yang Anda inginkan. Anda ingin gaji
dinaikkan ? Akan saya bicarakan dengan Yamada san. Anda ingin fasilitas di
perbaiki, akan saya bicarakan juga. Atau Anda ingin tambahan karyawan untuk
membantu Anda ? Akan saya ajukan kepada Yamada san. Tapi jangan resign. Hana
san, banyak, banyak sekali orang yang ingin bekerja di perusahaan multinasional
seperti ini. Dan Anda menyia-nyiakannya ?” Katou berapi-api
“Karena saya bukanlah orang yang banyak itu
Katou san” Jawab Hana datar.
“Bagi saya, 5 tahun sudah lebih dari cukup
untuk menikmati kehidupan seperti ini. Sekarang, saya ingin berlaku lebih untuk
bangsa saya. Saya ingin bebas menentukan jalan usaha sendiri. Mungkin tidak
akan berdampak besar bagi bangsa saya,
tetapi setidaknya saya akan memulainya. Untuk bisa seperti itu saya harus
melepaskan semua ini” beber Hana
“Apa yang akan Anda lakukan ?” Katou melunak,
menyerah, rupa-rupanya hasrat ini telah lama disimpan oleh Hana
“Saya akan kembali ke tanah kelahiran saya.
Menjalankan bisnis keluarga dan menjadi guru. Bangsa saya sedang sangat
membutuhkan seorang guru yang tidak mengharapkan bayaran semata” ujar Hana
“Ah…Anda mau jadi pahlawan rupanya” cibir
Katou kesal
“Hahaha….Anda cemburu. Setiap insan menjadi
pahlawan bagi dirinya sendiri” timpal Hana
“Ah ya, mengenai pengganti saya, pihak HRD
sudah menyeleksi beberapa kandidat secara administrasi. Dalam waktu dekat
mereka akan diwawancarai. Alangkah baiknya jika Anda yang mewawancarai mereka.
Sudah saya siapkan pula semua dokumen SOP dan modul tambahan dengan
sebaik-baiknya. Jadi, tidak akan terlalu sulit untuk mempelajarinya. Tinggal
pembiasaan saja, terutama dalam mengikuti ritme kerja Anda yang mengesankan”
jabar Hana, diakhiri senyuman
“Baiklah, terimakasih sudah mendengarkan
Katou san. Saya harus menyelesaikan target kerja kita hari ini.” Hana berdiri
dari duduknya, dan beranjak kembali ke meja kerjanya meninggalkan Katou yang
dikuasai berbagai rasa
3 bulan
kemudian di bandara Juanda - Surabaya
“Hana
san, bolehkah saya memeluk Anda ?” pinta Katou
“Tentu saja tidak Katou san. Katou san,
terimakasih banyak atas semuanya. Mohon jangan salah paham dengan keputusan
saya ini. Anda salah satu teman terbaik saya” Hana membungkukkan badannya tanda
hormat
“Ah, Anda membuat saya patah hati. Saya tidak
mengharapkan Anda menjadi teman terbaik saya. Saya mengharapkan Anda menjadi
cinta sejati saya” goda Katou
“Isshhh geblek” ujar Hana, yang disusul
gelak tawa keduanya.
Pengumuman dari petugas bandara, memaksa dua orang itu berpisah. Katou memandangi Hana sampai hilang dari netranya. Sekali lagi, ia patah hati, sekali lagi ia mesti menata hati. Ia merasa dikutuk menjadi jomblo selamanya.
TAMAT.
Komentar
Posting Komentar