SEMESTA KESELURUHAN, GALAU KAH ? (bag 1)
La luna hezo esto
Fue culpa de la luna
Haberme enamorado
Enamorado de ti ...
La amor hizo esto ....
Fue culpa de la luna
Haberme enamorado
Enamorado de ti ...
Lantunan suara bariton Gianluca Ginoble berpadu dengan tenor Piero Barone dan Ignaztio Bosscheto memenuhi rongga telingaku. Menemani ku menyusuri jalan berkubang air karena hujan semalam. Dan tak seperti biasanya, pagi ini Rinjani bersurban mendung. Sebenarnya tubuh enggan beranjak dari kasur empuk dan selimut yang menghangatkan. Tentu sangat bisa meminta ijin untuk rehat lebih lama lagi dengan memberikan satu atau dua alasan jitu, tapi tugas harus dilaksanakan. Tugas ini tidak main-main. Dikatakan dan diharapkan dapat mengubah tingkah laku, sikap, pengetahuan dan bahkan nasib seseorang. Tugas tidak main-main ini tidak akan berhasil tanpa kesadaran objeknya. Membangun kesadaran objeknya, itu salah satu tugasku sebagai pengemban tugas tidak main-main ini. Idealnya, tugas tidak main-main ini harus direncanakan secara matang jauh-jauh hari, didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, bahan yang cukup, lapangan berjibaku yang luas untuk menampung objek yang telah selesai di proses, dan satu lagi.....dilaksanakan dengan sepenuh hati dan kasih sayang. Yang aku hadapi, semesta berwarna warni.
Duniaku terbagi ke dalam beberapa semesta dari Semesta Keseluruhan. Di beberapa semesta itu aku mengemban tugas tidak main-main ini dalam Dunia Alpha, Beta dan Gamma. Aku masih tertatih - tatih menapak Semesta Este. Ketika aku ke Dunia Alpha di Semesta Este, aku melihat penghuninya masih segar - segar sepertinya belum banyak terkontaminasi. Sayang, banyak yang salah jalan dari awal. Banyak yang bertujuan ke Barat tapi mereka malah berjalan ke Timur. Ini aku ketahui setelah aku melaukan survey kecil-kecilan terhadap mereka yang aku bungkus dengan canda dan permainan. Apakah setelah melewati Dunia Gamma mereka akan berbalik. Jika iya, berapa banyak waktu, biaya, dan tenaga yang terbuang, mubazir ?
Masih di Semesta Este, aku juga sering mampir di Dunia Beta. Penghuninya lebih banyak tidur daripada berkegiatan. Padahal mereka butuh bekal untuk homestay dan latihan hidup di Dunia Luar. Di sana mereka harus menampakkan diri dengan segala identitas dan kemampuan yang mereka miliki. Dunia Luar adalah dunia yang akan mereka hadapi selepas dari proses di Lembaga Tidak Main-Main. Bagaimana bisa berhasil Latihan Hidup, jika mereka tidak memenuhi ransel mereka dengan pengetahuan bagaimana untuk hidup ? Apakah mereka berharap, tempat tidur di Dunia Luar lebih nyaman atau at least sama nyamannya dengan Dunia Beta. I don't know !
Sementara itu, Dunia Gamma membuatku "pay more attention" terhadap penghuni-penghuninya. Rata - rata penghuninya hilang dan muncul tak tentu waktu. Entah apa yang meraka lakukan sewaktu menghilang. Yang aku tahu saat mereka muncul, mereka memenuhi Dunia Gamma dengan obrolan setingkat anak TK dan tertawa-tawa tanpa paham apakah yang mereka tertawakan itu layak ditertwakan atau tidak. Mereka pernah homestay dan latihan hidup di Dunia Luar, tentunya mereka sudah melihat bagaimana orang-orang berusaha bertahan hidup di sana. Mestinya itu membuat mereka mulai ambil ancang-ancang untuk memasuki Dunia Luar dan menetap di sana.
Bagaimana dengan rekan-rekanku sesama pengemban tugas tidak main-main ? Yang bisa aku simpulkan mereka berwarna warni, ada yang dalam kebingungan, ada yang optimis, ada yang sambil lalu saja, dan ada pula yang setengah hati karena putus asa. Bagaimana denganku ? Aku berusaha optimis dengan memandang mereka sebagai individu yang unik, meski aku merasa sudah terlambat memupuk karena mereka akan berbuah. Bagiku, mereka adalah gudang ilmu plus laboratorium raksasaku yang baru. Itulah sebabnya Semesta Este menjadi tantangan tersendiri bagiku. Aku percaya, tahap perkembangan anak mirip dengan kehidupan; tertatih(merangkak) - berjalan - berlari - tertatih dan kemudian kembali ke Yang Hak. namun aku menginginkan ada evolusi setelah berlari kemudian terbang mengitari semesta keseluruhan sebagai individu yang berguna minimal bagi dirinya sendiri, sebelum kembali ke Yang Hak.
Dalam langkahku yang tertatih - tatih di Semesta Este, seringkali aku tercengang, surprised, geleng-geleng kepala, menghela nafas panjang dan bersedih mengingat masa depan Semesta Keseluruhan ada di tangan mereka. Mereka sedang tumbuh dalam perjalanan menghasilkan benih untuk penghuni baru. Namun, kesemua rasa itu aku balut dengan selimut kasih sayang yang optimis dan tidak buta. Aku merasa di Semesta Este segala keegoisanku terbalaskan, segala ketidaksabaranku ditumbangkan, segala kesombonganku tercacah-cacah, dan aku enjoy.... karena itu yang hendak aku musnahkan. Mereka sadar atau tidak sadar telah membantuku menjadi lebih baik, memaksaku membuka kitab - kitab antah berantah, belajar dan belajar lagi tidak hanya dengan otak namun dengan hati. Disanalah mulai terlihat salah satu jalan ampuh membuat mereka tumbuh sesuai dengan keinginan adalah dengan kasih sayang yang profesional.
Jadi.....aku tetap menjalankan tugas tidak main-main di Semesta Este dengan optimis.
Wahai para guru, konon engkaulah sang tapal batas itu. Batas antara ilmu dan dungu. Batas antara kemajuan dan kemunduran. Batas antara adab dan biadab...
BalasHapusJika engkau galau, yakinlah... bukan lagi tempat mu, di situ. Dan bersyukurlah.., laksana semesta yg selalu bergerak, tak selayaknya engkau terdiam.
Wahai sang tapal batas, jangan risaukan "mereka", karena garis takdir mengalir di tangan mereka. Doakan saja..., karena zamanmu bukanlah zaman mereka... wallahua'lam...
Thanks buat komennya
Hapus