LITTLE GIRL & STAR FRUIT TREE
Gadis kecil itu bergegas meninggalkan sekolah begitu lonceng tanda usai sekolah berbunyi. Ia berlari secepat kilat, rambutnya yang panjang kemerah-merahan meliuk-liuk diterbangkan angin, berlawanan arah dengan gerak tubuhnya yang menentang angin siang itu. Selalu begitu setiap hari, pagi saat berangkat sekolah dia akan berjalan cepat dengan kepala tertunduk, orang – orang sekampung menyebutnya robot karena hal itu, siang saat pulang sekolah ia akan berlari seakan terbang, orang – orang sekampung belum punya julukan untuknya akan kebiasaannya ini, yang bisa mereka lakukan hanya menggeleng – gelengkan kepala saja kadang sambil berteriak mengingatkan agar ia berhati -hati.
Sesampai di rumah, tas dan sepatunya dilemparkan sekenanya, seragamnya pun demikian. Tergesa – gesa ia mengganti bajunya dengan setelan kaos oblong dan celana pendek, baju kebesarannya. Ia mengamati seisi rumah, Umi dan Abu belum pulang begitu pula Bapak dan Mama-nya. Yang ada hanya Ninik Nina, Ninik Mama dan seorang kerabat yang membantu pekerjaan di rumah, dan sekarang mereka sedang asyik dengan pekerjaannya masing – masing. “Ninik..., tiang ke rumah Ninik Inah!” teriaknya sambil berlari, melesat seperti biasanya tanpa mendengarkan teriakan Ninik Nina-nya yang hendak mencegah kepergiannya.
Rumah Ninik Inah tidak seberapa jauh dari tempat tinggalnya. Ninik Inah adalah saudara Ninik Mama-nya yang paling kecil. Hampir semua orang di kampung ini bersaudara. Kalaupun ada yang bukan saudara, kemungkinan besar mereka adalah pendatang atau anak – anak kos yang nyantri di kota kecil ini.
“Assalaamu'alaikum, Ninik....” gadis kecil itu mencari Ninik Inah, wanita tua itu beranjak dari sajadahnya demi mendengar cucu kesayangannya datang. “Ada empit di dapur, ada pindang dan pelecing kangkung kesukaanmu, pasti kau belum makan kan ?” ujar wanita itu sambil membimbing gadis kecil itu ke arah dapur. “Sanu, siapkan makanan buat Ning” perintah wanita tua itu kepada anaknya. “Kita berayan aja ya.....” rayu gadis kecil itu pada Sanu, bibinya. Bi Sanu mengangguk mengiyakan, “aku memang menunggumu, Ning” ujar Bi Sanu. Bi Sanu adalah tali' umba' si gadis kecil. Mereka berdua makan dengan lahapnya. Setelah kenyang, Ning keluar dapur dan memandang pohon belimbing di samping pintu dapur. Kaki dan tangannya mulai beraksi, dahan demi dahan dipanjatnya dengan lincah, tak sampai 3 menit ia sudah berada pada puncak tertinggi pohon itu. Matanya mengawasi setiap gerak gerik apapun juga yang dijumpainya dari atas sana. Ia biasa berlama – lama di sana, sambil memandangi sekelilingnya. Ekspresi wajahnya berubah – ubah. Terkadang ia tak menyadari utusan Ninik Nina-nya sudah berdiri di bawah sambil berteriak – teriak menyuruhnya turun dan pulang. Hal itu seringkali membuat utusan Ninik Nina-nya kesal. Bisa dipastikan, sampai di rumah ia akan mendengar omelan panjang lebar Ninik Nina-nya, tapi ia terlihat acuh tak acuh. Itu karena pikirannya sedang mengembara jauh, sejauh matanya memandang.
Suatu hari, “apa kau akan ikut naik denganku, Rozi ?” tanya Ning pada Rozi, laki – laki kecil yang berumur 1 tahun di atasnya, Rozi adalah adik misannya, anak dari paman Samsul. Rozi mengangguk. “Kau tidak takut ?” Ning terlihat ragu. Rozi menggeleng pasti. “Aku tidak mau kau menggangguku di sana, awas!” ancam Ning mengepalkan tinjunya. “Aku akan duduk di dahan yang lebih rendah” ujar Rozi. “Aku dulu yang naik” ujar Ning langsung memanjat seperti monyet, iapun berada di dahan tertinggi yang dapat digunakan sebagai pijakan. Dahan itu sudah ditandai olehnya, jadi hanya dia yang boleh ada di dahan itu. Rozi menyusulnya naik, anak laki – laki itu naik dengan berhati – hati, sesekali matanya memandang tanah yang makin terasa jauh dari kakinya. Sementara itu, seperti biasa Ning memandang sekelilingnya, kali ini ia meliuk – liukkan badannya mengikuti angin, membuat dahan – dahan di bawahnya ikut bergerak. Tak ada ketakutan sedikit-pun di wajahnya, seakan dahan yang dipijak menjaga kakinya agar tetap menopang tubuhnya. Tiba – tiba “Rozi...liat itu !! pelangiiii...!!” teriaknya gembira, bukannya jawaban yang di dapatkannya melainkan teriakan Rozi yang terpeleset. Anak laki – laki itu menangis sejadi-jadinya sambil memegang dahan tempat tubuhnya tersangkut dengan erat. Matanya dipejamkan sambil menangis, tubuhnya bergetar karena terkejut dan takut jatuh. Ning memandang Rozi, “kau kenapa?!” Ning menuruni dahan – dahan kokoh pohon belimbing itu, mendekati Rozi “hai kau kenapa ?” tanya Ning lagi, ia tak sadar teriakannya tadi membuat Rozi terkejut lantas terpeleset dan tersangkut di dahan ini. “Kau mau turun ?” tanya Ning menggerak – gerakkan bahu Rozi dengan sebelah tangannya. Rozi mengangguk sambil terisak. “Aku tidak bisa menurunkanmu, kau tunggu di sini, pegangan yang kuat” Ning turun dari pohon sambil menghela napas kesal karena merasa keasyikannya diganggu Rozi.
Tak berapa lama paman Sardi datang membawa tangga. Ia mengomeli Ning, sementara yang diomeli cengar – cengir aja. “Kamu anak perempuan sukanya kok manjat – manjat” sungut paman Sardi “Biarin” jawab Ning pendek. “Kamu tahu tidak, dahan – dahan itu licin karena hujan semalam, bahaya kalau dipanjat !”jelas paman Sardi dengan wajah cemberut kesal sambil berusaha menurunkan Rozi. “Aku tahu!” Ning sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau tahu kenapa dilakukan juga ?” paman Sardi gemas “Karena aku mau” jawaban pendek Ning membuat paman Sardi tambah kesal. Ingin dicubit gadis kecil di sampingnya ini, tapi tentu saja ia tak tega.
Rozi berhasil turun dibantu paman Sardi. Paman Sardi memerintahkan dua anak kecil itu duduk berdampingan, Ning tahu pasti mau disidang. “Rozi, kamu jangan ikuti kalau diajak manjat – manjat. Buat apa sih manjat – manjat, tidak ada manfaatnya” ujar paman Sardi. “Membuktikan kata Darwin paman. Manusia berasal dari kera” jawab Ning santai “Astagfirullaahal'adziim, apa kau tak baca Qur'anmu Ning ? Darwin itu orang gila tahu?! Mau – maunya kau membuktikan teori tidak jelas seperti itu!” paman Sardi mulai terbawa jawaban Ning, ia menyadari hal itu dan ia tak ingin hengkang dari keadaan ini, karena ia kenal Ning, gadis kecil ini lain dari anak sebayanya. “Dengar Ivy Nurmala Ningsih, manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang lebih sempurna dari semua makhluknya,” belum selesai paman Sardi bicara Ning memotong “Manusia dibekali akal dan pikiran, jadi tidak mungkin kalau manusia itu keturunan kera. Kera hanya punya insting, tidak memiliki apa yang dimiliki manusia. Jika manusia dari kera, maka dalam sekian ribu tahun harusnya manusia berubah menjadi makhluk lain. Tapi dari dulu sampai sekarang manusia ya tetap manusia.” paman Sardi memandangi keponakannya sambil tersenyum “Nah tu kau tahu, jadi untuk apa manjat – manjat membuktikan katanya Darwin ?” paman Sardi mulai melunak “Ya...untuk membuktikan, aku lebih pintar memanjat dari kera, karena aku manusia” jawab Ning tetap santai “Rrrrrggghhh.....kamu itu!” paman Sardi geregetan dibuatnya “Tahu rasa kau nanti kalau kakimu keseleo atau patah” Paman Sardi meninggalkan dua bocah itu dengan hati dongkol dan berniat berwudhu demi meredam kemarahannya, “ Kan ada Ninik Nina yang ngurutin kalau keseleo” jawab Ning sambil tersenyum “Kalau patah tinggal disambung ya Ning” lanjut Rozi, dan mereka toss sambil tersenyum. Percakapan dua bocah itu membuat paman Sardi makin dongkol.
Usai insiden tadi, dua bocah itu duduk – duduk menghadap pohon belimbing yang masih basah karena hujan semalam. “Kau mau tau Rozi apa yang aku lihat tadi ?” tanya Ning dengan mimik wajah yang membuat Rozi penasaran. Ning berdiri di hadapan Rozi, ia mulai bercerita “Di sebelah sana Zi”, Ning menunjuk ke arah timur “ada lapangan luas, warnanya biru di batasi mungkin gunung berwarna biru tua, terus ada gulungan putih yang terus bergerak saling menyusul. Gulungan - gulungan putih itu muncul diantara gunung biru tua dengan atap – atap rumah. Seperti tali putih yang dibentangkan susul menyusul. Kadang – kadang lapangan itu berkilau – kilau. Terus di sana,” Ning menunjuk arah selatan “aku melihat atap – atap rumah penduduk lantas lapangan hijau yang luas. Mungkin itu sawah. Aku melihat atap rumah Farid juga si kembar Salma dan Salwa. Di sana” Ning menunjuk arah barat daya “Aku melihat beberapa tukang sedang bekerja membangun masjid kita, mereka naik turun bergantian lho. Naah...di sana” Ia menunjuk arah barat “ Aku melihat atap - atap pertokoan. Tokonya Fani, Ahoy, Yuli, juga tokonya Sakina. Toko Sinar Bahagia tingkat dua juga aku lihat. Kau ingat, di tingkat dua itu tempat kita berfoto waktu abis pawai kemaren. Terus ini Zi...agak aneh menurutku, tapi paling indah. Di sana” Ning menunjuk arah utara, sementara itu Rozi memperhatikan cerita Ning dengan antusias sambil sesekali mengunyah permen karet yang diberikan Ning tadi ketika mereka disidang oleh paman Sardi. “Aku melihat gunung besaaaaarrrr, warnanya biru tuaaaa. Di atasnya ada awannya sedikit. Itu pasti gunung Rinjani. Tahu tidak, aku dapat melihat atap – atap rumah Ayik,Syahrif juga Odi. Di dekat mereka hanya sedikit rumah yang aku lihat. Yang aku lihat malah kokok mama atas. Abis itu tumbuh – tumbuhan semua. Pohonnya tinggi – tinggi. Kebunnya Ninik Inah jadi tidak kelihatan. Terus ada lapangan juga, tapi warnanya macam – macam, aku tidak tau kenapa. Semakin ke sana (ke utara) kelihatan semakin gelap. Ih...ngeriii. Mungkin di sana gua yang ada naganya, seperti cerita Paman Tohri. Mungkin juga di sana tempat gua yang tembusannya ke labuhan haji, yang katanya bekas penjajah Jepang. Ih....” Ning bergidik untuk menambah kesan angker, Rozi ikut – ikutan bergidik. “tapi Zi, di gunung Rinjani itu aku melihat pelangi,indaaaah sekali, me-ji-ku-hi-bi-ni-u” Ning tersenyum lebar “Merah Jingga KuNing Hijau Biru Nila Ungu, benarkan ?” ujar Rozi, Ning mengangguk. “Kau tahu Ning, di gunung Rinjani itu tinggal Dewi Anjani, penguasa gunung Rinjani. Bisa jadi pelangi itu selendangnya Dewi Anjani, kata Inak...” belum selesai Rozi bicara Ning memotong “ Tidak mungkin Rozi....., masa selendang Dewi Anjani sebesar dan selebar itu ?”
“Tapi kata Inak Ihan pelangi itu selendang Bidadari yang turun mandi” Rozi berkeras
“Memangnya Dewi Anjani mau turun mandi kemana ?” Ning bertanya sambil memonyongkan bibirnya
“Ke Segara Anak” jawab Rozi ringkas
“Tidak mungkiiiiin...” Ning tidak puas dengan jawaban Rozi
“Semalam kan hujan, air di Segara Anak jadi melimpah, makanya Dewi Anjani turun mandi” terang Rozi
“Berarti Dewi Anjani turun mandi sehabis hujan ?” tanya Ning seperti bertanya pada dirinya sendiri
“Iya” Rozi mengangguk
“Kalau tidak hujan dia tidak mandi. Kalau musim panas dia tidak mandi, kan tidak ada pelangi Zi. Masa Dewi Anjani tidak mandi selama musim panas ? Pasti dia bau sekali. Ahhhh kamu salah Zi.....Apa yang dikatakan Inak Ihan itu salah”
“Terus yang benar gimana, Ning ?”
Ning terdiam, ia sendiri tidak tau jawabannya. Ia sangat penasaran akan asal pelangi yang indah itu.
“Tu kan kamu tidak tahu jawabannya, berarti Inak Ihan benar, Pelangi itu selendang bidadari!” vonis Rozi
“Tidak, salah, Inak Ihan itu salah. Kau lihat saja nanti !”
“Huuuu....kau tanya saja Ninik Inah, tuh” Rozi memonyongkan bibirnya, Ning terdiam, asyik dengan pikirannya
“Ninik, pelangi itu apa ya ?” akhirnya Ning bertanya dengan hati – hati pada wanita tua yang tidak pernah bersekolah itu. Ning menunggu jawaban Ninik Inah sambil menahan nafas.
“Pelangi itu selendang bidadari yang turun mandi” jawab Ninik Inah
“Tuh...kan, aku bilang juga apa, weeekkkk” Rozi merasa menang
“Ah...salah...salah...salah. Itu bukan selendang bidadari ! Tunggu saja kau Rozi, aku pergi mencari pelangi” ujar Ning kesal lantas meninggalkan Rozi yang menari – nari merayakan kemenangannya.
***
Ning membolak – balikkan tubuhnya, tidak bisa tidur. Pertanyaan tentang apa itu pelangi memenuhi pikirannya. Abu menyadari ada yang tidak biasa pada keponakan kesayangannya. Abu menutup kitab berbahasa Arab yang baru seperempat dibacanya. Lantas mendekati ranjang putri kecil yang memenuhi ruang hatinya. “Tidak bisa tidur ? Kenapa ?” Abu mengelus – elus kepala gadis kecil itu. “Abu tadi Ning liat banyak yang aneh - aneh” Ning merubah posisinya, sekarang ia duduk memeluk gulingnya.“Liat yang aneh – aneh ?” Abu pura – pura tidak tahu kalau Ning memanjat pohon belimbing Ninik Inah lagi. “Abu tidak marah kan ?” Ning semakin memeluk erat gulingnya. Abu menggeleng. Ning pun mulai bercerita tentang apa yang dilihatnya tadi, dan muncullah berbagai pertanyaan dari mulut mungilnya. “Yang kau anggap gunung di sebelah timur, itu bukan gunung nak, tetapi pulau Sumbawa, bagian dari propinsi kita, propinsi Nusa Tenggara Barat. Kemudian lapangan biru yang kau lihat itu laut anakku, labuhan haji. Gulungan – gulungan putih yang saling susul menyusul itu adalah gelombang laut yang berbuih, buihnya berwarna putih makanya terlihat seperti gulungan – gulungan putih. Nah....laut itu terlihat berkilau karena ia sesekali memantulkan sinar matahari” Abu menjelaskan dengan sabar. “Terus Abu, di Gunung Rinjani Ning lihat Pelangi, kata Rozi , Inak Ihan dan Ninik Inah, Pelangi itu selendangnya Dewi Anjani yang sedang turun mandi ke Segara Anak. Tapi masa Dewi Anjani mandi waktu musim hujan saja ? Pelangi kan adanya di musim hujan Abu” Ning mengutarakan rasa penasarannya. Abu tersenyum. “Orang – orang tua ini niatnya baik, tapi informasinya salah” batin Abu sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ning. “Pelangi itu bukan selendang bidadari” jawab Abu, beliau diam sejenak demi melihat ekspresi Ning “Tu kan, Ning benar. Terus Pelangi itu apa Abu ?” Abu tersenyum, memperbaiki posisi duduknya dan mulai menjawab pertanyaan Ning. “Begini nak, sehabis hujan, titik - titik air masih berada di udara. Nah kemudian disinari oleh cahaya matahari, titik – titik air memantulkan cahaya matahari itu dengan warna yang berbeda – beda. Warna – warna itulah yang membentuk Pelangi”
“Kok bentuknya setengah lingkaran Abu, bukan kotak atau setengah kotak ?”
“Itu disebabkan bentuk titik – titik air di udara berbentuk bola, demikian pula bentuk bumi kita. Pada saat kita melihat pelangi, kita melihatnya dari sisi yang setengahnya. Setengah lingkaran lagi di sisi yang lain”
Ning manggut – manggut, lantas tersenyum. Ia berjanji besok akan menemui Rozi dan menjelaskan tentang pelangi, dan ia akan memanjat lagi pohon belimbing itu, kali ini ia akan melihat Gunung Rinjani.
“Abu, terimakasih ya. Boleh kan besok Ning manjat pohon belimbing itu lagi, Ning mau lihat Gunung Rinjani”
“Boleh, tapi Ning harus hati – hati ya” Ning mengangguk. Ia merebahkan tubuhnya dan mulai bermain dengan khayalannya hingga tak sadarkan diri, ia telah berada di alam mimpi.
“Boleh, tapi Ning harus hati – hati ya” Ning mengangguk. Ia merebahkan tubuhnya dan mulai bermain dengan khayalannya hingga tak sadarkan diri, ia telah berada di alam mimpi.
*****
Seperti biasa, sepulang sekolah Ning bergegas mengganti baju dengan kostum kebanggaannya kaos oblong dan celana pendek selutut. Ia tak langsung pergi melainkan mengambil teropong mainan milik Faisal – kakaknya - kemudian melongok ke dapur, ada aroma sedap menusuk – nusuk hidungnya dan menggoda perutnya. Ijah menangkap aksi si gadis kecil “De medahar Ning ? Niki taok nasi' De!” Ijah mengambil baki nasi yang baru saja terisi. Asap nasi baru matang mengepul mengenai muka Ijah. “Piring Jah” pinta Ning “bareng bisok ima ” mirip perintah, namun Ijah menuruti semua yang di pinta gadis kecil ini. Dia tersenyum melihat Ning menyendok nasi tanpa dibujuk. Karena biasanya sulit sekali menyuruh gadis kecil ini makan nasi. Ia tidak doyan nasi, lebih baik dia makan jagung, ketela atau ubi jalar. Jika ditegur maka jawabannya “sumber karbohidrat bukan cuma nasi” Ijah yang lulusan Madrasah Aliyah akan diam karena apa yang dikatakan gadis kecil ini benar. Dan menurutnya gadis kecil ini suka sekali makan daging dan anti sayuran. Daging seperti camilan saja di tangannya. Hari ini Ijah menyaksikan yang bukan biasa, Ning makan dengan lahapnya. Terong perlak buatan Ninik Nina dan ikan laut goreng, mampu membuatnya makan nasi. Selesai makan, peralatan makannya ditinggal begitu saja, berlari ia ke wastafel, mencuci tangan. “Tiang ke Ninik Inah” ujarnya singkat lantas melesat, sayup – sayup terdengar teriakan Ninik Nina yang melarangnya memanjat pohon belimbing lagi.
“Assalaamu'alaikum Ninik....!” suara gadis kecil itu, lantas ia mulai memanjat pohon belimbing yang penuh dengan buahnya. Teropong yang dikalungkan ke lehernya, bergerak – gerak mengikuti irama tubuhnya. Sementara itu, Ninik Inah yang tergopoh – gopoh beranjak dari sajadahnya tak menemui siapapun yang mengucapkan salam tadi. Ia mencari – cari Ning, tapi tak ditemukannya gadis kecil itu. “Ning....Ning...” panggilnya “Lek atas tiang Ninik!” gadis kecil itu melambaikan tangan dari dahan favoritnya. “Uwah epe mangan ?” tanya wanita tua itu “Uwah”jawabnya singkat lantas mengarahkan teropong mainannya ke arah gunung Rinjani.
Gunung Rinjani dengan ketinggian kurang lebih 3000 meter di atas permukaan laut, tampak perkasa dan bersahaja. Awan – awan mengelilingi lehernya seperti surban yang disampirkan pada pundak para tuan guru. Gadis kecil itu takjub dengan bukti kebesaran Yang Maha Kuasa. Ia teringat perbincangannya dengan Abu ketika mereka membahas surat Al-Ghaasyiyah ”Semua makhluk Allah SWT mempunyai fungsinya masing – masing. Jangan dikira udara dan air tidak memiliki tugas. Gunung pun demikian. Gunung berfungsi sebagai pasak bumi. Kalau tidak ada gunung, bumi tidak akan seperti ini.” Ning memperhatikan perkataan Abu “Dengan adanya gunung, angin tidak bisa berhembus semaunya, sehingga tidak merugikan makhluk-Nya yang lain. Gunung menyimpan persediaan air bagi kita. Gunung juga mengandung batu-batu mulia yang harganya tak terkira” lanjut Abu “Tapi, kalau gunung meletus bisa merenggut banyak korban, Abu” ujar Ning kala itu. “Memang begitu anakku, tapi harus diingat itu sudah takdir-Nya. Setelah meletus ia tetap bermanfaat. Tanah letusannya menjadi tanah yang subur. Ohya gunung bersama pohon yang tumbuh di sana bisa menghadang banjir lho” lanjut Abu “Masa sih, bagaimana bisa ?” Ning semakin penasaran “Pada waktu hujan turun, air hujan yang sampai ke bumi disimpan oleh pohon – pohon besar yang tumbuh di gunung. Air itu nantinya di alirkan sedikit demi sedikit lewat sungai. Nah...kalau gunung tidak ada pohonnya, gunung tidak kuat sendirian menahan air hujan, maka terjadilah banjir. Kalau gunung berada di tengah - tengah jalur banjir, gunung akan membelah banjirnya, jadi banjirnya tidak akan besar” Ning manggut – manggut mendengar penjelasan Abu Ma'rif. “Abu, kenapa bentuk gunung seperti itu, kenapa tidak bulat seperti bola, atau kenapa tidak kotak ?” tanya gadis kecil itu tiba – tiba. Abu Ma'rif tersenyum sejenak, mencari kata – kata yang tepat untuk menjelaskan bentuk gunung kepada gadis kecil ini. “Kalau gunung seperti bola atau kotak, manusia akan sulit mendakinya, demikian juga binatang – binatang. Tentu manfaatnya tidak akan banyak, malah mungkin akan menghalangi kehidupan makhluk Allah SWT yang lainnya.” Lagi – lagi Ning manggut – manggut tanda mengerti sambil membayangkan bagaimana jika gunung berbentuk bola, lantas ia tertawa sendiri, “Lho kok tertawa, ada yang lucu ?” tanya Abu Ma'rif “Abu, kalau gunung berbentuk bola, pasti akan menggelinding dan bumi jadi lapangan sepak bola, heheheh....tapi....kita nontonnya dari mana ya ?” ia berhenti tertawa, raut wajahnya tiba – tiba serius mencari jawaban atas pertanyaannya “kita tidak akan bisa menonton dalam keadaan hidup, karena kita semua mati dilindas oleh gunung – gunung itu” ujar Abu
*****
“Allah SWT memang hebat!!” teriaknya sambil terus menatap Rinjani melalui teropongnya. Rinjani begitu kokoh dan indah. Tiba – tiba perasaan mistis mendesir di hatinya. Pepohonan di gunung itu seperti pagar hidup yang kokoh. Mereka seakan – akan melambai – lambai memanggilnya. Imajinasinya bermain – main di sana, merubah pepohonan itu menjadi istana kerajaan antah berantah. Ning teringat Dewi Anjani penguasa Gunung Rinjani. Ninik Nina pernah bercerita bahwa nama Dewi Anjani yang sebenarnya adalah Rinjani. Ia putri raja yang mengikuti ayahnya bertapa di Gunung yang sekarang bernama gunung Rinjani. Kemudian Dewi Anjani diangkat sebagai pimpinan oleh bangsa jin yang menghuni Gunung Rinjani dan sekitarnya. Sejak diangkat menjadi pimpinan bangsa jin itulah Dewi Anjani lenyap dari muka bumi. Dan gunung tempat lenyapnya Dewi Anjani bernama Gunung Rinjani, sementara nama Anjani diberikan oleh bangsa Jin sebagai bentuk penghormatan pada Ratu mereka. Paman Gerdoh pernah bercerita kalau dia pernah melihat penampakan Dewi Anjani waktu dia dan teman – temannya mendaki Gunung Rinjani. Katanya pada saat – saat tertentu dengan kasat mata terlihat istana Ratu Dewi Anjani.
Ning mengarahkan teropongnya ke langit yang sedang membiru tanpa awan, lantas diarahkannya teropong itu ke Gunung Rinjani lagi. Ia teringat cerita Paman Gerdoh tentang danau segara anak. Paman Gerdoh mengatakan orang – orang yang mengunjungi Gunung Rinjani betah berlama – lama di sana, apalagi ada danau Segara Anak yang airnya biru dan banyak dihuni ikan mas juga mujaer. Danau itu dinamakan Segara Anak karena airnya biru seperti air laut. Danau itu penuh misteri dan berhawa mistis. Kalau seseorang waktu berada di danau itu melihat pemandangan yang luas berarti umurnya masih panjang namun sebaliknya kalau mereka melihat pemandangan yang sempit maka umurnya pendek dan mereka harus mawas diri. Ketika Ning menanyakan kebenaran cerita itu pada Abu Ma'rif jawaban yang di dapatkannya adalah “ilmu manusia itu sangat terbatas dan kita harus percaya pada hal – hal gaib, makhluk Allah SWT terdiri dari apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat” Ning tidak terlalu mengerti jawaban Abu Ma'rif tapi ia tetap manggut – manggut dan tersenyum.
****
Malam ini Ning tidak mengajukan pertanyaan sama sekali, ia melukiskan semua khayalannya pada buku gambar ukuran A3 yang dimintanya beberapa hari lalu. Corat coret gadis kecil 11 tahun itu penuh warna dan masing – masing benda ditulisinya dengan nama benda tersebut. Abu Ma’rif menatap hasil karya keponakan kesayangannya dengan rasa syukur mendalam. Abu tahu, keputusannya yang mengijinkan Ning memanjat pohon belimbing Ninik Inah ditentang oleh Ninik Nina, meski keputusannya ini didukung sepenuhnya oleh orang tua Ning. Bagi Ninik Nina melarang Ning manjat – manjat sangat beralasan, Ning adalah anak perempuan, bukan anak laki – laki seperti kebanyakan cucunya. Anak perempuan di keluarga besar Ma'rif jumlahnya setengah anak laki – laki. Malah Abu Ma'rif anak tertuanya tidak memiliki seorang putri pun, ia hanya punya putra - putra yang kini sudah dewasa. Makanya anak perempuan harus dijaga lebih daripada anak laki – laki. Perempuan harus diajari agama, tata krama, memasak dan menjahit, karena nanti mereka akan menjadi perekat dua keluarga ketika menikah. Wanita akan menjadi duta keluarganya. Wanita baik, maka baik pula keluarganya di mata orang lain. Bahkan Allah SWT menjanjikan surga bagi orang tua yang berhasil mendidik anaknya menjadi wanita yang sholehah. Ninik Nina tidak habis pikir, bagaimana bisa mendidik anak perempuan dengan membiarkannya bertingkah liar memanjat – manjat seperti itu. Apa pula manfaatnya, yang ada kakinya keseleo atau patah. Kalau sudah patah kakinya, siapa lelaki yang akan sudi meminangnya nanti. “Biarkan saja Inaq Tuan, hitung – hitung dia melatih kesigapannya. Lagipula nanti dia akan bosan sendiri.” ujar Bapak-nya Ning ketika Ninik Nina mengeluhkan hobi memanjat Ning. “Kalau saja ada pacuan kuda dan panahan di pulau kita ini, aku pasti mengajarnya berkuda dan memanah, Inaq Tuan” sambung Abu Ma'rif. “Kalau begitu aku harus siap – siap mengurut kakinya kalau keseleo nanti” ujar Ninik Nina cemberut yang disambut oleh senyuman Abu, Umi, Bapak dan Mama-nya Ning.
Apa yang dikatakan orang tua Ning terbukti, naik kelas enam SD Ning tak lagi memanjat pohon belimbing itu. Alasannya sudah besar, malu dilihat orang.
*****
12 tahun kemudian
Ning memandang pohon belimbing tua itu sambil tersenyum. Sekarang pohon belimbing itu dililiti kawat berduri dengan tinggi sekitar satu meter setengah dari permukaan tanah. “Kok dililit kawat berduri gitu ?” tanyanya lebih pada diri sendiri “Untuk mencegah adik – adikmu membuktikan teori gila Darwin” tiba - tiba Paman Sardi berdiri di sampingnya, Ning tersenyum mendengar alasan itu.
Komentar
Posting Komentar