KONVENSIONAL YANG AMPUH
Kegiatan belajar
mengajar yang efektif terjadi jika guru dan siswa berinteraksi secara aktif
menjalankan skenario pembelajaran. Untuk membangun interaksi aktif ini tidaklah
mudah, mengingat karakteristik peserta didik yang berbeda-beda. Dan tentu saja
akan semakin sulit jika guru tidak menguasai berbagai metode pembelajaran plus
tekad, serta semangat yang kuat untuk mencoba berinovasi dengan hal ini.
Sayangnya, tokoh sentral dalam pembelajaran adalah guru. Maka guru dituntut
menyusun skenario pembelajaran yang dapat menarik peserta didik untuk
“tenggelam” dalam pembelajaran.
Ada berbagai macam metode
pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas, disesuaikan dengan karakteristik
peserta didik. Metode baru atau lama bukanlah hal yang penting, karena goal nya adalah peserta didik aktif
dalam pembelajaran, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar diakhir
pembelajaran peserta didik mampu
memahami materi yang disampaikan.
Tahun pelajaran 2015 – 2016 lalu
saya diberikan mandat untuk mengajar di paket keahlian Teknik Audio Video (TAV)
dan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL), dimana peserta didiknya ribut
melulu. Selalu ada celetukan – celetukan ketika guru menjelaskan. Selalu
terdengar cekikikan-cekikikan para siswi ditengah pelajaran, bukannya
memperhatikan mereka malah ngerumpi diam-diam. Belum lagi insiden cermin jatuh,
yang disusul teriakan dan macam-macam komentar dari peserta didik lainnya. Metode
yang saya gunakan waktu itu ceramah dan diskusi klasikal. Memang metode
mainstream. Saya pun mencoba diskusi kelompok, ternyata idem alias sama. Tetep
saja ribut, meributkan rumpian mereka, bukan irbut berdiskusi. Bagaimana dengan
tugas yang harus didiskusikan ? Tugas tetap mereka kumpulkan, namun dipastikan
yang mengerjakan tugas tersebut hanya satu orang tiap-tiap kelompoknya. Lalu
saya mencoba metode penugasan, alhasil semua jawaban sama sampai-sampai titik
komanya juga sama. Sehingga saya berkesimpulan, metode-metode tersebut tidak
cocok untuk mereka.
Saya tidak
hendak beranjak dari metode – metode konvensional tersebut karena memang metode
itulah yang paling gampang untuk dilakukan, disamping pengetahuan saya tentang
metode-metode belajar modern tidaklah cukup. Keyakinan saya bahwa metode
pembelajaran konvensional belum tentu tidak menarik, membuat saya merasa
tertantang untuk mengemas pembelajaran menggunakan metode konvensional
semenarik mungkin. Pilihan saya jatuh pada metode penugasan dan resitasi,
dengan sedikit polesan.
Sintaks
penugasan dan resitasi yang saya lakukan adalah sebagai berikut :
- Penyampaian kisi-kisi materi yang akan dibahas
di pertemuan berikutnya
- Peserta didik diminta mencari informasi tau
materi belajar sesuai dengan kisi-kisi tersebut
-
Peserta didik diminta mempelajari materi yang sudah
mereka dapatkan
- Beberapa peserta didik diminta untuk
mempresentasikan materi belajar hasil pencariannya. Penunjukan peserta didik
yang presentasi dilakukan pada hari-H KBM bukan pada waktu pemberian kisi-kisi.
Dan itu dilakukan secara acak, sehingga mau tidak mau peserta didik dipaksa
untuk membaca materi hasil pencariannya.
-
Peserta didik yang menjadi audiens mencatat materi
yang disampaikan oleh presentator yang menurut mereka penting untuk dicatat
-
Setelah presentasi selesai, diadakan diskusi
klasikal yang dimoderasi oleh guru. Pada kesempatan ini siswa lain boleh
bertanya jawab dan menanggapi presentator.
-
Sekitar 40 menit terakhir guru dan peserta didik
membahas kembali materi belajar, dengan memberikan penekanan-penekanan pada
hal-hal yang harus dikuasai peserta didik. Kegiatan ini disertai tanya jawab.
- Guru mengumpulkan 2 jenis tagihan yaitu tugas mencari materi belajar dan tugas mencatat hal-hal penting yang disampaikan presentator
Sintaks 1 - 3
adalah metode penugasan, sementara sintaks 4 – 8 adalah metode resitasi dengan
sedikit polesan.
Hasil pemantauan
selama pembelajaran kelas tetap ribut, namun kali ini ributnya bermanfaat, peserta
didik menjadi lebih aktif dan tidak ada yang ngerumpi. Hasil evaluasi pun
menunjukkan, nilai rata-rata kelas meningkat.
Metode ini saya
lakukan dengan panjang jam mengajar 3 jam pelajaran (3 x 45’), dan khusus untuk
materi-materi yang sifatnya teoritis.
Dengan demikian
saya berkesimpulan, metode penugasan dan resitasi dengan dipoles sedemikian
rupa masih ampuh untuk mengatasi permasalahan kelas ribut ngerumpi.
Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar